Nursi
Wednesday, August 22nd, 2007Kabut kelabu pekat itu menggelinding liar ke kanan dan kiri.
Melintasi batu dan pepohonan yang liar ranggas di tepian tanah ladang
terbengkalai entah sejak kapan. Dari balik kilat lidah api unggun sepasang mata
resah memikirkan sebuah pencarian yang belum kunjung usai. Teronggok pula sang
putih bersemangat sayu berharapan ragu membincang panjang lebar tentang
perjalanan dan jarak tempuh sedepa demi sedepa yang berwindu sudah dijalani.
Gerai kelam tersampir di bahu. Selamanya begitu.
[08.08.2007]